Layout

Jumat, 26 September 2014

Pertemuan 7 (Etika dan Moral)

Pengertian Etika
  • Etika sebagai cabang filsafat juga disebut filsafat moral.
  • Secara etimologis, etika berasal dari kata Yunani yaitu Ethos yang artinya watak sedangkan moral berasal dari kata Latin yaitu Mos yang artinya tunggal dan Moris yang artinya jamak. 
  • Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kesusilaan.
  • Obyek material dari etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia yang secara bebas dan sadar.
  • Objek formal dari etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkal laku tersebut.
Etika menurut Bertens
  • Nilai dan norma moral menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Disebut juga sebagai "sistem nilai" dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat. Misalnya: Etika orang Jawa.
  • Kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud disini adalah kode etik. Misal: Kode Etik Advokat Indonesia.
  • Ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Artinya sama dengan filsafat moral.
Etika dibedakan menjadi 2
  • Etika Perangai
    Adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah tertentu dan pada waktu tertentu.
    Contoh: Berbusana  adat, pergaulan muda mudi, perkawinan semenda, upacara adat.
  • Etika Moral
    Berkenaan dengan kebiasaan berprilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila dilanggar timbul kejahatan yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral.
    Contoh: Bekata dan berbuat jujur, menghargai hak orang lain, menghormati orang tua dan membela kebenaran dan keadilan.
Arti Etika
  • Etika sebagai ilmu
    Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
  • Etika sebagai kode etik
    Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
  • Etika sebagai sistem nilai
    Nilai mengenai benar salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.
Obyek Material dan Obyek Formal Etika
  • Objek material: Suatu hal yang dijadikan sasaran pemikirian, suatu hal yang diselidiki atau suatu hal yang dipelajari. Objek material bisa bersifat konkret atau abstrak.
  • Objek formal: Cara memandang atau meninjau yang dilakukan seorang peneliti atau ilmuwan terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.
  • Objek material etika: Tingkah laku atau perbuatan manusia yang dilakukan secara sadar dan bebas.
  • Objek formal Etika: Kebaikan dan keburukan, bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.
Etika sebagai Cabang Filsafat
  • Etika merupakan cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan metode tugas manusia dalam upaya menggali nilai-nilai moral atau menerjemahkan berbagai nilai itu ke dalam norma lalu menerapkkannya pada situasi kehidupan konkret.
  • Sebagai ilmu, etika mencari kebenaran; sebagai filsafat, etika mencari kebenaran yang sedalam-dalamnya.
Berdasarkan Kajian Ilmu
  • Etika Nomatif
    Mempelajari secara kritis dan metodis norma yang ada untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
  • Etika Fenomenologis
    Mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.

Tujuan Belajar Etika
  • Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu.
  • Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
Sumber dari PPT Carolus Suharyanto, Lic. Theol


































Senin, 22 September 2014

Pertemuan 6 (Silogisme dan Fallacia)


©       SILOGISME
- Suatu simpulan dimana dari dua putusan atau premis disimpulkan satu putusan yang baru.
- Prinsip: Bila premis benar maka simpulan benar.
- Dua macam silogisme: kategoris dan hipotesis.


©       Silogisme Kategoris
- Premis dan simpulannya adalah putusan kategoris (Penyataan tanpa syarat)
- Bila penalaran baik, silogisme memperlihatkan alasan dan dasarnya.
- Tentukan simpulan dulu, ciri-cirinya lewat kata: karena itu, maka dari situ, dll.


©       Silogisme Kategoris Tunggal
- Mempunyai dua premis. Terdiri dari 3 term yaitu S, P dan M.
- Bentuk-bentuk silogisme kategoris tunggal:
(1) M adalah S dalam premis mayor dan P adalah premis minor. Aturan: Premis minor harus sebagai penegasan sedangkan premis mayor  bersifat umum.
Contoh :
Premis Mayor: Setiap manusia dapat mati.
Premis Minor: Aristoteles dapat mati.
Simpulan: Jadi, Aristoteles dapat mati.
(2) M jadi P dalam premis mayor dan minor. Aturan: Salah satu premis harus negatif dan premis mayor bersifat negatif.
Contoh:
Premis Mayor: Lingkaran adalah bentuk bundar.
Premis MInor: Segitiga bukan bentuk bundar.
Simpulan: Jadi, Segitiga bukan lingkaran.
(3) M menjadi S dalam premis mayor dan minor. Aturan: Premis minor harus berupa penegasan sedangkan putusan bersifat partikular.
Contoh:
Premis Mayor: Mahasiswa itu orang dengan tugas belajar.
Premis MInor: Ada mahasiswa yang orang bodoh.
Simpulan: Jadi, Sebagian orang bodoh itu orang dengan tugas belajar.
(4) M adalah P dalam premis mayor dan S dalam premis minor. Aturan: Premis minor harus berupa penegasan sedangkan kesimpulan bersifat partikular.
Contoh:
Premis Mayor: Influenza itu penyakit.
Premis Minor: Semua penyakit mengganggu kesehatan.
Simpulan: Jadi, Sebagian yang mengganggu kesehatan itu influenza.


©       Silogisme Kategoris Majemuk
- Enthymema: Silogisme yang dalam penalaran tidak mengemukakan semua premis secara eksplisit. Salah satu simpulannya disebut juga silogisme yang disingkat.
- Pilosologisme: Deretan silogisme dimana simpulan silogisme yang satu menjadi premis untuk silogisme lainnya.
- Sorites: Silogisme yang premisnya lebih dari dua. Putusan-putusan itu dihubungkan satu sama lain demikian sehingga predikat dari putusan satu jadi subjek putusan berikutnya.
 
Kesesatan Pemikiran (Fallacia)
- Kesalahan pemikiran dalam logika bukan kesalahan fakta tapi kesalahan atas kesimpulan karena penalaran yang tidak sehat.
- Kesalahan fakta: Presiden AS Barack Obama lahir di Indonesia.
- Kesalahan penalaran:
                -Klasifikasi: 1. Kesesatan Formal
                                  2. Kesesatan Informal
- Kesesatan Formal: Pelanggaran terhadap kaidah logika.
- Kesesatan Informal: Menyangkut kesesatan dalam bahasa.
- Penempatan kata depan yang keliru: Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan.
- Mengacau posisi subjek: Karena tidak mengerjakan PR, guru menghukum anak itu.
- Ungkapan yang keliru: Pencuri kawakan itu berhasil diringkus polisi minggu yang lalu.
- Amfiboli: Sesat karena struktur kalimat bercabang.
- Kesesatan aksen: Sesat karena penekanan pada pembicaraan.
- Kesesatan bentuk pembicaraan: Sesat karena menyimpulkan kesamaan konstruksi.
- Kesesatan aksiden: Dikacaukan dengan hal yang hakiki.

Sumber dari PPT Mikha Agus Widianto, M.Pd dan Bonar Hutapea M.Si. Psi

Pertemuan 5 (Critical Thinking dan Induksi-Deduksi)


©       CRITICAL THINKING
- Merasionalisasikan kehidupan manusia secara hati-hati mengamati proses berpikir sebagai dasar untuk memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu. (Chaffee, 1990)
- Pengamatan atas suatu asumsi tentang bukti terbaru dan mengevaluasikan argumen dalam rangka menegakan kesimpulan atas suatu perspektif baru. (Strader, 1992)

Karakteristik:
1. Rasional, Reasonable dan Reflektif
- Berdasarkan alasan dan bukti bukan atas dasar keinginan pribadi.
- Pemikir kritis tidak melompat pada kesimpulan. Butuh waktu untuk koleksi data, timbang fakta dan pikirkan permasalahan.
2. Melibatkan Skepticism yang Sehat dan Konstruktif
- Tidak menolak ide-ide kecuali karena mengerti hal tersebut.
- Menaati peraturan setelah berpikir panjang dengan mencari pemahaman untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.
3. Otonomi
- Tidak mudah dimanipulasi.
- Berpikir dengan pikiran sendiri dibandingkan diarahkan dengan anggota grupnya.
4. Kreatif
- Menciptakan ide orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran dan konsep.
5. Adil
- Tidak berpihak.
6. Dapat dipercaya dan dilakukan
- Memutuskan tindakan yang akan dilakukan.
- Membuat observasi yang dapat dipercaya.
- Menegakkan kesimpulan secara tepat.
- Mengatasi masalah dengan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan.

Pemikir Kritis di Psikologi akan menampilkan ketrampilan kognitif dalam:
- Analisa
- Aplikasi Standar
- Diskriminasi
- Pencarian Informasi
- Pembuatan Alasan Logis
- Prediksi
- Transformasi Pengetahuan

5 Model Berfikir Kritis
- T: Total Recall
- H: Habits
- I: Inquiry
- N: New Ideas and Creativity
- K: Knowing How You Think

- Total Recall: Mengingat suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan.
- Habits: Sesuatu yang dilakukan tanpa berpikir.
- Inquiry: Memeriksa isu secara mendalam dengan menanyakan hal-hal yang terlibat.
- New Idea and Creativity:  Seseorang berpikir melebihi buku sumber.
- Knowing How You Think: Berpikir bagaimana seseorang berpikir.


©       Apa penalaran induktif?
- Cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal untuk menarik kesimpulan umum tertentu.
- Kesimpulan adalah generalisasi fakta yang memperlihatkan kesamaan.
- Kesimpulan harus dianggap sebagai bersifat sementara dan selalu tidak lengkap.
- Persamaan penalaran induktif dan deduktif yaitu argumentasi keduanya terdiri dari premis yang mendukung kesimpulan.
- Perbedaan penalaran induktif dan deduktif yaitu penalaran yang tepat akan punya premis benar tapi kesimpulan salah.

Generalisasi Induktif:
- Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dengan sifat tertentu untuk menarik kesimpulan untuk semua.
- Prinsip: Apa yang terjadi berkali-kali dalam kondisi tertentu diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yang sama terpenuhi.
- 3 syarat: 1. Tidak terbatas secara numerik, 2. Tidak terbatas secara spasio temporal, 3. Dapat dijadikan dasar pengandaian.

Analogi Induktif
- Bicara tentang dua hal yang berbeda dan dibandingkan.


©       Deduktif
- Suatu proses tertentu dalam proses akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang lebih khusus dari pengetahuan yang umum.

Sumber: PPT Pengantar dan Sejarah Filsafat Dr. Raja Oloan Tumanggor dan Mikha Agus Widianto, M.Pd

Sabtu, 20 September 2014

Pertemuan 4 (Subyektivisme-Obyektivisme dan Substansi Filsafat Ilmu)


SUBYEKTIVISME-OBYEKTIVISME
  • Subyektivisme

- Pengetahuan dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu.
- Dari pangkal pandangan individu, pengetahuan dipahami sebagai seperangkat keyakinan khusus yang dianut oleh para individu.
- Pendukung pandangan ini, yaitu:
1. Aristoteles, Plato, Rene Descartes
2. Kaum Solipsisme (Solo Ipse)
3. Kaum Realisme Epistemologis
4. Kaum Idealisme Epistemologis
- Ciri-ciri pendekatan subyektivisme:
  1. Menggegas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa) misalnya sejarah, kepercayaan-kepercayaan yang lain dan seterusnya.
  2. Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri.
  3. Prinsip subyektif tentang alasan cukup karena pengalaman bersifat personal,  benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.

- Descartes:
  - Cogito ergo sum cogitans: Saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.
  - Ketika Descartes berbicara mengenai "berpikir", ia tidak bermaksud secara ekslusif pada penalaran saja, tetapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak masuk dalam kegiatan berfikir.
- Realisme Epistemologis: Berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan "apa yang lain" dari diri saya.
- Idealisme Epistemologis: Berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide yang merupakan suatu  peristiwa subyektif murni.
- Banyak filsuf sesudah Descartes mengandaikan bahwa satu-satunya hal yang dapat diketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita.
-Semua pengetahuan tentang sesuatu "yang bukan aku" atau "yang diluar diri sendiri" diragukan kepastian kebenarannya.
- Pengetahuan  tentang sesuatu "yang bukan aku" merupakan pengetahuan tidak langsung.
- Descartes melolak skeptisme yang membawanya ke arah subyektivisme.
- Sikap dasar skeptisme adalah kita tidak pernah tau tentang apa pun. Mustahil manusia mencapai pengetahuan tentang sesuatu atau paling kurang manusia tidak pernah merasa yakin apakah dirinya dapat mencapai pengetahuan tertentu.

Obyektivisme

-
Kenyataan bukti bagi keyakinan nalar akan adanya dunia luar atau "yang bukan aku" tidak kurang meyakinkan dibandingkan bukti yang tersedia bgi kenyataan adanya subyek atau aku.
- Descartes ke dalam posisi ekstrim yang disebut solipsisme berarti Ia sendiri pada dirinya.
- Keberadaan sesuatu di luar diri atau "yang bukan aku" dalam pengalaman sehari-hari misalnya menjadi jelas dari gejala bahasa.
- Kenyataan adalanya bahasa selalu mengandaikan bahwa adanya pribadi atau subyek  lain selain dirinya  sendiri.
- Orang tidak akan mempunyai kesadaran eksplisit tentang dirinya sebagai individu selain melalui interaksi dengan individu lain atau "yang bukan aku"
- Kedasaran akan diri sendiri merupakan hasol dari suatu proses bertahap melalui pengalaman pergaulatan dengan dunia luar.
- Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks. Mempunyai sifat dan ciri yang melampaui keyakinan dan kesadaran individu.
- 3 Pandangan dasar objektivisme:
            1. Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif.
            2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual.
            3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
  Pandangan ini sangat dekat dengan positivisme dan empirisme.

 

SUBSTANSI FILSAFAT ILMU
  • Konfirmasi
    - Penegasan atau memperkuat.
    - Berhubungan dengan filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang di dapat dari kenyataan atau fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna tentang sesuatu.
    - Ada 2 aspek konfirmasi yaitu kuantitatif dan kualitatif.
    - Kuantitatif memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif. Misalnya membuat penelitian dengan mengumpulkan sampel sebanyak mungkin yang akhirnya membuat suatu kesimpulan yang bersifat umum.
    - Kualitatif menunjukan kebenaran. Misalnya dalam penelitian menjalankan model wawancara mendalam.
    - 3 jenis konfirmasi yaitu:
1. Decision Theory: Kepastian berdasarkan keputusan.
2. Estimation Theory: Menetapkan kepastian dengan memberi peluang.
3. Realiability Theory: Menetapkan kepastian dengan mencermati stabiitas fakta yang berubah-ubah terhadap hipotesis.
  • Inferensi
    - Artinya penyimpulan.
    - Sebagai proses membuat kesimpulan.
    - Dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari suatu atau lebih keputusan.
    - Mempunyai dua cara yaitu cara deduktif dan induktif.
    - Deduktif terbagi ke dalam 2 jenis yaitu inferensi langsung dan inferensi tidak langsung.

  • Konstruksi Teori
    - Kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alam atau sosial.
    - Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi  menurut metode alamiah.
    - Dua kutub arti teori yaitu :
    1. Kutub 1: Teori sebagai hukum ekperimental2. Kutub 2: Teori sebagai hukum yang berkualitas norma
 Sumber: PPT Pengantar dan Sejarah Filsafat Carolus Suharyanto. Lic.Theol. dan Mikha Agus Widianto, M.Pd

Pertemuan 3 (Epistemologi dan Filsafat Kebenaran)

EPISTEMOLOGI

  • Pengantar
    - Epistemologi dari bahasa Yunani. Episteme adalah pengetahuan dan Logos adalah ilmu. Jadi epistemologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat. Misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya serta hubungan dengan kebenaran dan keyakinan.
    - Epistemologi adalah teori pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian, dasar serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.
    -Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode yaitu metode induktif, deduktif, positivisme, kontemplatis dan dialektis.
  • Metode untuk Memperoleh Pengetahuan
    a. Empirisme
    Adalah suatu metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman.
    b. Rasionalisme
    Yang berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal.
    c. Fenomenalisme
    Bapak fenomalisme adalah Immanuel Kant. Sesuatu terdapat dalam diri seseorang merangsang alat inderawi dan diterima oleh akal kita dalam bentuk pengalaman secara sistematis dengan jalan penalaran.
  • Sifat Epistemologi
    - Secara kritis: Mempertanyakan atau menguji cara kerja, pendekatan dan  kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia.
    - Secara Normatif: Menentukan norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan.
    - Secara Evaluatif: Menilai apakah suaru keyakinan, pendapat suatu teori pengetahuan dapat dipertanggung jawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat.
  • Dasar dan Sumber Pengetahuan
    - Pengalaman manusia
    - Ingatan
    - Penegasan tentang apa yang diobservasi
    - Minat dan rasa ingin tahu
    - Pikiran dan penalaran
    - Logika
    - Bahasa
    - Kebutuhan hidup manusia
  • Struktur Hidup Manusia
    - Adanya 2 kutub yaitu:
      1. Kesadaran/Subjek (S): Sebagai yang mengetahui
      2. Objek (O): Sebagai yang diketahui
    - Hubungan antara S dan O menghasilkan pengetahuan
  • Teori Kebenaran dalam Ilmu Pengetahuan
    - Teori kebenaran korespondensi
       Kebenaran akan terjadi apabila subjek yakin bahwa objek sesuai dengan kenyataan.
    - Teori kebenaran koherensi
       Kebenaran akan terjadi apabila ada kesesuaian pendapat dari beberapa subjek.
    - Teori kebenaran pragmatik
       Kebenaran akan terjadi apabia sesuatu memiliki kegunaannya.
    - Teori kebenaran konsensus
       Kebenaran akan terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai alasan tertentu.
    - Teori kebenaran semantik
       Kebenaran akan terjadi apabila orang mengetahui dengan tepat arti suatu kata.
KEBENARAN

  • Apakah kebenaran itu?
    - Untuk menilai sifat atau kualitas dari suatu proposisi atau pernyataan digunakan istilah benar-salah
    - Pengetahuan bisa dinilai benar atau salah karena pengetahuan pada dasarnya  merupakan gabungan dan perpaduan dari sistem pernyataan.
    - Konsep tidak dapat dinilai benar atau salah. Hanya dapat dinilai jelas dan terpilah.
    - Persepsi tidak dapat disebut benar atau salah, yang dapat adalah pernyataan apa yang dipersepsikan.
  • Pengertian Kebenaran
    - Kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologi.
    - Kebenaran dapat dimengerti sebagai kesusaian antara apa yang dipikirkan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
    - Suatu pengetahuan atau pernyataan disebut benara jika sesuai dengan kenyataan. Dengan demikian, kenyataan menjadi suatu ukuran penentu penilaian.
    - Kata Yunani untuk kebenaran adalah  aletheia yang berarti ketaktersembunyian adanya.
    - Kebenaran menurut konsep Plato dimengerti sebagai terletak pada objek yang diketahui atau pada apa yang dikejar untuk diketahui.
    - Menurut kaum Positivisme Logis bahwa kebenaran dibedakan menjadi 2 yaitu:
      1. Kebenaran Faktual
          Kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia.
      2. Kebenaran Nalar
          Kebenaran yang bersifat tautologis dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang dunia ini.
    - Thomas Aquinas kebenaran dibedakan menjadi 2 yaitu:
       1. Kebenaran Ontologis
           Kebenaran yang terdapat dalam kenyataan spiritual atau material yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui.
       2. Kebenaran Logis
           Kebenaran yang terdapat pada akal budi manusia dalam bentuk adanya kesesuaian dengan kenyataan.

    Sumber: PPT Pengantar dan Sejarah Filsafat Dr. Raja Oloan Tumanggor dan  Carolus Suharyanto. Lic.Theol.

Selasa, 16 September 2014

Pertemuan 2 (Metafisika dan Aksiologi)

METAFISIKA

·      Etimologis: Meta ta physika = Sesudah fisika. Istilah Andronikos dari Rhodes untuk 14 buku Aristoteles yang ditempatkan sesudah fisika (8 buku). Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat  kedua (fisika).

·         Beragam arti metafisika:
- Upaya mengkarakterisasi realitas sebagai keseluruhan.
- Usaha menyelidiki apakah hakikat yang berada dibalik realitas.
- Pembahasan filsafati yang komprehensif mengenai seluruh realitas atas
  segala sesuatu yang ada. (Umum)

·         Pembagian metafisika:
- Metafisika Umum: Ontologi
- Metafisika Khusus: Kosmologi, teologi metafisik, filsafat antropologi.

1.    Metafisika Umum (Ontologi)
Membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dengan cara memisahkan eksistensi dari penampilan eksistensi itu.
3 Teori ontologis, yaitu:
1.    Idealisme: Ada sesungguhnya berada di dunia ide, yang tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dari yang sesungguhnya.
Tokohnya:
- Berkeley (1685-1753): Satu-satunya realitas sesungguhnya ialah akulah subjektif spiritual.
- I. Kant (1724-1804): Objek pengalaman ialah yang ada dalam ruang dan waktu, penampilan dari yang tidak punya eksistensi dan independen diluar pemikiran kita.
- Hegel (1770-1831): Segala sesuatu yang ada adalah satu bentuk dari satu pikiran.
2.    Materialisme: Menolak hal yang tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah keberadaannya semata-mata material. Realitas adalah alam kebendaan.
Tokohnya:
- Leukippos dan Demokrios (460-370SM): Realitas bukan hanya satu tapi banyak unsur yang tidak dapat dibagi (atom).
- Hobbes (1588-1679): Seluruh realitas ialah materi yang tidak bergantung pada pikiran kita.
- L.A.Feuerbach (1804-1872): Material adalah realitas sesungguhnya, manusia bagian dari alam materi itu.
3.    Dualisme: Tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tidak kelihatan secara fisis). Harus dibedakan dengan monisme dan pluralisme (teori tentang jumlah substansi).

2.    Metafisika Khusus (Teologi Metafisik)
·         Kosmologi: (Kosmos = Dunia/ketertiban, Logos = Kata/ilmu)
Percakapan tentang alam/ketertiban paling fundamental dari seluruh realitas.
Memandang alam sebagai totalitas dari fenomena. Yang disoroti: ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, keabadian dengan metode rasional.

·         Teologi Metafisik: Dikenal dengan theodicea yang membahas kepercayaan pada Allah di tengah realitas kejahatan yang merajalela di dunia.
Membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama. 
Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dengan bukti rasional sebagai berikut:

a.    Argumen ontologis: Semua manusia punya ide tentang Allah. Realitas lebih sempurna dari ide. Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih sempurna dari ide manusia tentang Tuhan.
b.    Argumen kosmologis: Setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia adalah Tuhan.
c.    Argumen moral: Manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
d.    Filsafat Stoa: Panteistis - Segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi atau kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
e.    David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
f.     Feuerbach: Religi tercipta oleh hakekat manusia sendiri, yaitu egoisme.
g.    L. Feuerbach: Religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tidak lain dari apa yang diinginkan manusia.
h.    F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk karena Allah dianggap sebagai Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
i.      Sigmund Freund: Tiga fungsi Allah yang utama yaitu:
         - Penguasa Alam.
         - Agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yang
           mengerikan.
         - Allah menjaga agar ketentuan budaya dilaksanakan.


AKSIOLOGI
·         Pengertian
- Aksiologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu Axios dan Logos.
- Axios berarti nilai dan logos berarti ilmu.
- Nilai berkaitan dengan kegunaan.
- Aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia  menggunakan ilmunya.
- Surisumantri menyatakan bahwa aksiologi merupakan teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
- Aksiologi adalah kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.
- Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah serta cara dan tujuan dari perbuat manusia.
- Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten mengenai perilaku etika.
- Pengetahuan manusia cukup luas. Pengetahuan itu diharapkan memiliki aspek tepat guna bagi pemiliknya.
- Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan.
- Bagaimana kaitan antara cara pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai.
- Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai.
- Nilai yang dimaksud dalam aksiologi adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.

·         Fakta dan Nilai
- Aksiologi membedakan "yang ada" dengan nilai, membedakan fakta dan nilai.
- Untuk menjelaskan lebih jauh apa nilai, perlu dibedakan dengan fakta. Fakta adalah sesuatu yang ada secara nyata dan berlangsung begitu saja. Sementara nilai adalah sesuatu yang berlaku, sesuatu yang memikat atau mengimbau kita.
- Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. Fakta dapat dilukiskan secara objektif. Misalnya letusan gunung merapi, letusan tersebut bisa punya nilai bagi seseorang tetapi tidak bagi yang lain.
- Fakta selalu mendahului nilai maka ada 3 ciri-ciri nilai:
                1. Nilai berkaitan dengan subjek
                2. Nilai tampil dalam konteks praktis
                3. Nilai menyangkut sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat yang dimiliki objek.
- Macam-macam nilai:
                1. Nilai Ekonomis: Berdasarkan hukum ekonomi
                2. Nilai Estetis: Saat menikmati lukisan atau lagu yang indah.

·         Nilai Moral
- Apa yang membuat suatu nilai menjadi nilai moral? Setiap moral memperoleh bobot moral bila diikutsertakan dalam tingkah laku moral. Kejujuran sebagai nilai moral yang kosong bila tidak diikutsertakan dengan nilai lain seperti nilai ekonomis.
- Nilai dibagi 4 kelompok:
                1. Nilai yang menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek yang perpadanan dengan makhluk punya indera.
                2. Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar, luhur dll.
                3. Nilai rohani seperti nilai estetis (bagus jelek) benar salah (tidak terikat pada permasalahan inderawi)
                4. Nilai religius seperti yang kudus dan tidak kudus menyangkut objek absolut.
- Ada sesuatu hirarki dari pengelompokan 4 nilai tersebut yaitu nilai vital lebih tinggi dari nilai kesenangan dan nilai rohani lebih tinggi dari nilai vital, dan seterusnya.
- Ciri-ciri nilai moral:
                1. Berkaitan dengan tanggung jawab kita sebagai manusia. Nilai moral dapat di wujudkan dalam perbuatan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab.
                2. Berkaitan dengan hati nurani
                3. Mewajibkan. Misalnya nilai moral mewajibkan secara absolut.
                4. Bersifat formal. Tidak ada nilai moral yang murni terlepas dari nilai lain.
- Nilai moral memiliki kekuatan besar yang memaksa untuk menerimanya, walaupun bertentangan dengan hasrat kecenderungan dan kepentingan pribadi kita.

·         Nilai sebagai Kualitas yang Tidak Riil?
- Nilai itu tidak ada untuk dirinya sendiri
- Nilai tampak pada kita seolah-olah hanya merupakan kualitas dari pengemban nilai: keindahan dari lukisan, kegunaan dari sebuah peralatan.
- Jadi nilai itu bukan merupakan benda atau unsur dari benda. Melainkan sifat, kualitas dari objek tertentu yang dikatakan baik.

·         Pembagian Aksiologi
- Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu:
                1. Etika (Filsafat Etika)
                2. Estetika (Filsafat Keindahan)
- Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia. Contohnya tindakan yang membedakan benar salah menurut moral, putusan moral bertindak sewenang-wenang atau bertindak sekehendak hati.
- Etika digunakan untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan atau manusia-manusia lainnya.
- Etika sebagai filsafat yang memuat pendapat, norma dan istilah moral.
- Etika sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan.
- Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika dan bagaimana kita bisa mengenal karya besar seni.
- Estetika berkenaan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dan fenomena sekelilingnya.

·         Peranan Nilai Bagi Kita
- Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
- Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya melalui tindakan.
- Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
- Memperkuat identitas kita sebagai manusia.
Sumber: PPT Pengantar dan Sejarah Filsafat Bonar Hutapea, M.Si. Psi dan Mikha Agus Widianto, M.Pd

Senin, 15 September 2014

Data Pribadi

Hallo semuanya! Selamat sore<3


Pada entri pertama saya, saya akan memperkenalkan diri.
Nama saya Inke Ayu Pertiwi. Teman-teman bisa memanggil saya Inke.
Lahir di Jakarta pada tanggal 12 Agustus 1994. 
Saya tinggal di Cibubur yang tepatnya di perbatasan antara Jakarta Timur dan Jawa Barat.
Kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara. NIM: 705140075
Saya masih semester 1 dan sedang menjalankan blok kedua yaitu Filsafat.
Dan mempunyai kelompok tutorial terdiri dari 6 orang (termasuk saya) yang akan menjadi partner pada blok ini dan kami memberi nama kelompok kami yaitu "Descartes Duro" (Descartes adalah salah satu tokoh Psikologi yang menganut Psikologi modern sedangkan Duro adalah tangguh) Berikut ini adalah foto kelompok Descartes Duro:


Pada blog ini saya akan memberikan penjelasan tentang mata kuliah Filsafat.
Sekian perkenalan dari saya dan terima kasih:D

Pertemuan 1 (Penghantar Filsafat)

APAKAH FILSAFAT ITU?
1. Pengertian dan Definisi Filsafat


Filsafat berasal dari bahasa Yunani. Terdiri dari kata "Philos" yang artinya kekasih atau sahabat dan kata "Sophia" yang artinya kebijaksanaan kearifan pengetahuan. Jadi Philosophia berarti mencintai kebijaksanaan sahabat pengetahuan.


  • Beberapa Definisi Filsafat
  1. Filsuf Pra-Sokratik: Ilmu yang berupaya memahami hakikat (arkhe/asal mula) alam dan realitas dengan mengendalikan akal budi.
  2. Plato: Ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran asli dan murni.
  3. Aristoteles: Ilmu pengetahuan yang senantiasa mencari prinsip dan penyebab realistas yang ada.
  4. Rene Descartes (Prancis): Himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah Tuhan, alam dan manusia.
  5. William James (Amerika): Suatu upaya luar biasa hebat untuk berfikir yang jelas dan terang.

2. Asal Mula Filsafat


  • 4 hal yang melahirkan filsafat:
  1. Kekaguman dan Keheranan (Thaumasia)
  2. Ketidakpuasan
  3. Hasrat Bertanya
  4. Keraguan (Aporia)

  • Kekaguman dan Keheranan

- Aristoteles (Metafisika): Karena kekaguman manusia mulai berfilsafat.
- Kekaguman punya 2 hal penting yaitu ada yang kagum dan sesuatu yang mengaggumkan.
- Subjek kekaguman adalah manusia dan objek kekagguman adalah segala sesuatu yang ada.
- I. Kant: Kagum dengan bintang di langit dan hukum moral dalam hatinya (coelum stellatum supra me, lex moralis intra me)


  • Ketidakpuasan

- Sebelum filsafat lahir, mitos sangat berperan besar.
- Keterangan mitos tidak memuaskan manusia.
- Ratio meninggalkan mitos dan lahir filsafat yang mencakup seluruh ilmu pengetahuan.


  • Hasrat Bertanya

- Kekaguman melahirkan pertanyaan yang tidak kunjung habis.
- Pertanyaan membuat manusia melakukan pengamatan.
- Pertanyaan mengarah pada dasar dan hakikatnya yang menjadi ciri khas filsafat.


  • Keraguan

- Manusia bertanya karena masih meragukan kebenaran dari yang diketahuinya.
- Keraguan merangsang manusia untuk selalu bertanya yang kemudian menggiring manusia berfilsafat.


3. Sifat Dasar Filsafat

  1. Berfikir Radikal
     Berfikir mendalam untuk mencapai akar permasalahan (memperjelas realitas).
  2. Mencari Asas
    Berfikir mendalam untuk mencapai akar permasalahan (memperjelas realitas).
  3. Memburu Kebenaran
    Diperoleh kembali untuk meraih kebenaran lebih pasti.
  4. Mencari Kejelasan
    Untuk menghilangkan keraguan untuk meraih kejelasan intelektual (Geisler, Feinberg)
  5. Berfikir Rasional
    Dengan ciri-ciri logis, sistematis dan kritis.

4. Penalaran Filsafat
  1. Pendobrak
    Mendobrak pintu tradisi yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat.
  2. Pembebas
    Membebaskan manusia dari cara pikir mitis dan mistis.
  3. Pembimbing
    Membimbing manusia berfikir secara sistematis dan logis.

5. Kegunaan Filsafat
  • Bagi Ilmu Pengetahuan
    Sebagai induk ilmu pengetahuan (Mater Scientiarum) telah melahirkan, merawat dan mendewasakan ilmu pengetahuan.
  • Bagi Kehidupan Praktis
    Membantu manusia memahami apa arti. Misalnya nilai keindahan dalam arsitektur.


KELAHIRAN FILSAFAT YUNANI
1. Asal Usul Kata "Filsafat" dan "Filsuf"
  • Asal kata 'Filsafat' dan 'Filsuf: Bahasa Yunani 'Philosophia' dan 'Philosophos' yang berarti 'Pecinta Kebijaksanaan'
  • Menurut tradisi kata itu pertama kali digunakan oleh Pythagoras (abad 6 SM)
  • Dialog plato Phaidros: Orang bijaksana cocok untuk Dewa sementara untuk manusia lebih cocok 'pecinta kebijaksanaan' karena pemilik kebijaksanaan melampaui kemampuan insani.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Filsafat Lahir
  • 3 Faktor mempersiapkan lahirnya filsafat- Keberadaan Mitologi: Melalui mitos manusia mencari keterangan tentang asal usul alam semesta dan kejadian dunia. Ada mitos kosmogonis (asal usul alam) dan mitos kosmologis (sifat kejadian alam semesta)
    - Kesustraan Yunani: Berupa amsal, teka teki, dongeng digunakan sebagai buku pendidikan rakyat. Rakyat gemar puisi yang mempunyai nilai edukatif.
    - Pengaruh Ilmu Pengetahuan di Timur Kuno: Seperti Mesir dan Babilonia dalam astronomi dan geometri.
  • Peranan "Logos" dalam Kelahiran Filsafat- Mitologi Yunani berusaha menjawab persoalan alam semesta.- Sejak abad 6 SM, orang mulai mencari jawaban rasional tentang alam semesta.- Logos (akal budi, rasio, tuturan, bahasa) mengganti mitos- Kelahiran filsafat merupakan pergumulan panjang antara mitos dan logos.- Filsafat lahir saat lahir saat loos mengalahkan mitos. Namun filsafat dimaksud baik       filsafat dan ilmu pengetahuan karena filsafat merupakan pandangan rasional tentang     segala-galanya.- Berangsur-angsur ilmu pengetahuan melepaskan diri dari filsafat agar memperoleh       otonomi.
  • Kaitan Sifat Bangsa Yunani dan Kelahiran Filsafat
  1. Segi Geografis
    Daratan Yunani terdiri dari pegunungan gundul maka mereka berusaha merantau. Perantauan bukanlah daerah jajahan dan bukan negara persatyan tapi punya otonomi lengkap.
  2. Segi Sosial-Politik
    Bangsa Yunani selalu merasa lain dari bangsa lain atau asing (babaros). Faktor penentu perbedaan bangsa Yunani dengan bangsa lain adalah kemerdekaan. Orang Yunani berlainan dengan bangsa asing karena hidup dalam polis (negara kecil, rakyat yang hidup didalamnya, polis sebagai lembaga politik: pusat segala aktivitas ekonomi, sosial, politik, religius dengan ciri: otonomi, swasembada.
    3 ciri polis yang menciptakan iklim kelahiran filsafat:
    - Dalam polis, logos mendapatkan kedudukan istimewa.
    - Suasana umum yang terbuka menandai kehidupan sosial di Yunani.
    - Pengorganisasian polis membuat semua warga sederajat. Tiap warga ambil bagian       dalam urusan negara.
  3. Kultural
    Bangsa pencipta filsafat dan ilmu pengetahuan, juga menghasilkan kesenian yang mengagumkan. Bahasa Yunani mengungkapkan suatu rationalitas tertentu, cocok mengekspresikan pikiran dengan seksama dan jelas.
  • Sejarah Filsafat Yunani dan Kelahiran FilsafatPemikiran Yunani merupakan batu bangunan untuk kultur modern. Tidak ada kultur modern tanpa peranan ilmu dan teknologi.- Pemikiran ilmiah adalah penemuan Yunani.- Filsafat Yunani kuno punya posisi istimewa karena disitu ditemukan kelahiran filsafat. Belajar filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat.- Ilmu sejarah mengalami kesulitan terhadap filsafat Yunani kuno karena kurangnya sumber tertulis pemikiran filsuf.


    Sumber: PPT Pengantar dan Sejarah Filsafat Dr. Raja Oloan Tumanggor dan  Mikha Agus Widianto, M.Pd