Layout

Selasa, 16 September 2014

Pertemuan 2 (Metafisika dan Aksiologi)

METAFISIKA

·      Etimologis: Meta ta physika = Sesudah fisika. Istilah Andronikos dari Rhodes untuk 14 buku Aristoteles yang ditempatkan sesudah fisika (8 buku). Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat  kedua (fisika).

·         Beragam arti metafisika:
- Upaya mengkarakterisasi realitas sebagai keseluruhan.
- Usaha menyelidiki apakah hakikat yang berada dibalik realitas.
- Pembahasan filsafati yang komprehensif mengenai seluruh realitas atas
  segala sesuatu yang ada. (Umum)

·         Pembagian metafisika:
- Metafisika Umum: Ontologi
- Metafisika Khusus: Kosmologi, teologi metafisik, filsafat antropologi.

1.    Metafisika Umum (Ontologi)
Membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dengan cara memisahkan eksistensi dari penampilan eksistensi itu.
3 Teori ontologis, yaitu:
1.    Idealisme: Ada sesungguhnya berada di dunia ide, yang tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dari yang sesungguhnya.
Tokohnya:
- Berkeley (1685-1753): Satu-satunya realitas sesungguhnya ialah akulah subjektif spiritual.
- I. Kant (1724-1804): Objek pengalaman ialah yang ada dalam ruang dan waktu, penampilan dari yang tidak punya eksistensi dan independen diluar pemikiran kita.
- Hegel (1770-1831): Segala sesuatu yang ada adalah satu bentuk dari satu pikiran.
2.    Materialisme: Menolak hal yang tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah keberadaannya semata-mata material. Realitas adalah alam kebendaan.
Tokohnya:
- Leukippos dan Demokrios (460-370SM): Realitas bukan hanya satu tapi banyak unsur yang tidak dapat dibagi (atom).
- Hobbes (1588-1679): Seluruh realitas ialah materi yang tidak bergantung pada pikiran kita.
- L.A.Feuerbach (1804-1872): Material adalah realitas sesungguhnya, manusia bagian dari alam materi itu.
3.    Dualisme: Tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tidak kelihatan secara fisis). Harus dibedakan dengan monisme dan pluralisme (teori tentang jumlah substansi).

2.    Metafisika Khusus (Teologi Metafisik)
·         Kosmologi: (Kosmos = Dunia/ketertiban, Logos = Kata/ilmu)
Percakapan tentang alam/ketertiban paling fundamental dari seluruh realitas.
Memandang alam sebagai totalitas dari fenomena. Yang disoroti: ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, keabadian dengan metode rasional.

·         Teologi Metafisik: Dikenal dengan theodicea yang membahas kepercayaan pada Allah di tengah realitas kejahatan yang merajalela di dunia.
Membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama. 
Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dengan bukti rasional sebagai berikut:

a.    Argumen ontologis: Semua manusia punya ide tentang Allah. Realitas lebih sempurna dari ide. Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih sempurna dari ide manusia tentang Tuhan.
b.    Argumen kosmologis: Setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia adalah Tuhan.
c.    Argumen moral: Manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
d.    Filsafat Stoa: Panteistis - Segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi atau kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
e.    David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
f.     Feuerbach: Religi tercipta oleh hakekat manusia sendiri, yaitu egoisme.
g.    L. Feuerbach: Religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tidak lain dari apa yang diinginkan manusia.
h.    F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk karena Allah dianggap sebagai Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
i.      Sigmund Freund: Tiga fungsi Allah yang utama yaitu:
         - Penguasa Alam.
         - Agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yang
           mengerikan.
         - Allah menjaga agar ketentuan budaya dilaksanakan.


AKSIOLOGI
·         Pengertian
- Aksiologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu Axios dan Logos.
- Axios berarti nilai dan logos berarti ilmu.
- Nilai berkaitan dengan kegunaan.
- Aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia  menggunakan ilmunya.
- Surisumantri menyatakan bahwa aksiologi merupakan teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
- Aksiologi adalah kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.
- Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah serta cara dan tujuan dari perbuat manusia.
- Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten mengenai perilaku etika.
- Pengetahuan manusia cukup luas. Pengetahuan itu diharapkan memiliki aspek tepat guna bagi pemiliknya.
- Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan.
- Bagaimana kaitan antara cara pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai.
- Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai.
- Nilai yang dimaksud dalam aksiologi adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.

·         Fakta dan Nilai
- Aksiologi membedakan "yang ada" dengan nilai, membedakan fakta dan nilai.
- Untuk menjelaskan lebih jauh apa nilai, perlu dibedakan dengan fakta. Fakta adalah sesuatu yang ada secara nyata dan berlangsung begitu saja. Sementara nilai adalah sesuatu yang berlaku, sesuatu yang memikat atau mengimbau kita.
- Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. Fakta dapat dilukiskan secara objektif. Misalnya letusan gunung merapi, letusan tersebut bisa punya nilai bagi seseorang tetapi tidak bagi yang lain.
- Fakta selalu mendahului nilai maka ada 3 ciri-ciri nilai:
                1. Nilai berkaitan dengan subjek
                2. Nilai tampil dalam konteks praktis
                3. Nilai menyangkut sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat yang dimiliki objek.
- Macam-macam nilai:
                1. Nilai Ekonomis: Berdasarkan hukum ekonomi
                2. Nilai Estetis: Saat menikmati lukisan atau lagu yang indah.

·         Nilai Moral
- Apa yang membuat suatu nilai menjadi nilai moral? Setiap moral memperoleh bobot moral bila diikutsertakan dalam tingkah laku moral. Kejujuran sebagai nilai moral yang kosong bila tidak diikutsertakan dengan nilai lain seperti nilai ekonomis.
- Nilai dibagi 4 kelompok:
                1. Nilai yang menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek yang perpadanan dengan makhluk punya indera.
                2. Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar, luhur dll.
                3. Nilai rohani seperti nilai estetis (bagus jelek) benar salah (tidak terikat pada permasalahan inderawi)
                4. Nilai religius seperti yang kudus dan tidak kudus menyangkut objek absolut.
- Ada sesuatu hirarki dari pengelompokan 4 nilai tersebut yaitu nilai vital lebih tinggi dari nilai kesenangan dan nilai rohani lebih tinggi dari nilai vital, dan seterusnya.
- Ciri-ciri nilai moral:
                1. Berkaitan dengan tanggung jawab kita sebagai manusia. Nilai moral dapat di wujudkan dalam perbuatan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab.
                2. Berkaitan dengan hati nurani
                3. Mewajibkan. Misalnya nilai moral mewajibkan secara absolut.
                4. Bersifat formal. Tidak ada nilai moral yang murni terlepas dari nilai lain.
- Nilai moral memiliki kekuatan besar yang memaksa untuk menerimanya, walaupun bertentangan dengan hasrat kecenderungan dan kepentingan pribadi kita.

·         Nilai sebagai Kualitas yang Tidak Riil?
- Nilai itu tidak ada untuk dirinya sendiri
- Nilai tampak pada kita seolah-olah hanya merupakan kualitas dari pengemban nilai: keindahan dari lukisan, kegunaan dari sebuah peralatan.
- Jadi nilai itu bukan merupakan benda atau unsur dari benda. Melainkan sifat, kualitas dari objek tertentu yang dikatakan baik.

·         Pembagian Aksiologi
- Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu:
                1. Etika (Filsafat Etika)
                2. Estetika (Filsafat Keindahan)
- Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia. Contohnya tindakan yang membedakan benar salah menurut moral, putusan moral bertindak sewenang-wenang atau bertindak sekehendak hati.
- Etika digunakan untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan atau manusia-manusia lainnya.
- Etika sebagai filsafat yang memuat pendapat, norma dan istilah moral.
- Etika sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan.
- Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika dan bagaimana kita bisa mengenal karya besar seni.
- Estetika berkenaan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dan fenomena sekelilingnya.

·         Peranan Nilai Bagi Kita
- Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
- Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya melalui tindakan.
- Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
- Memperkuat identitas kita sebagai manusia.
Sumber: PPT Pengantar dan Sejarah Filsafat Bonar Hutapea, M.Si. Psi dan Mikha Agus Widianto, M.Pd

3 komentar: