Layout

Senin, 10 November 2014

Final Project KBK Penulisan Ilmiah


PENGARUH TINDAKAN KEKERASAN

TERHADAP PERILAKU ANAK
 
Latar Belakang

     Anak merupakan generasi penerus bangsa yang membutuhkan perlindungan hukum khusus yang berbeda dari orang dewasa, karena fisik dan mental anak yang belum dewasa. Perlindungan hukum bagi anak diartikan sebagai upaya terhadap kebebasan dan hak asasi anak yang berhubungan dengan kesejahteraannya (Setiawan, 2014).

     Tindak kekerasan pada anak Indonesia masih sangat tinggi, salah satu penyebabnya adalah cara pandang yang keliru mengenai anak. Orang tua menganggap kekerasan pada anak adalah hak milik orang tua untuk mendidikan anaknya dengan cara yang salah sekalipun (Setiawan 2014).

 

Pengertian Kekerasan

     Ritonga (diambil dalam Barker, 2007) mendefinisikan child abuse merupakan tindakan melukai berulang-ulang secara fisik maupun emosional terhadap anak yang ketergantungan. Dapat melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual.

 

Penyebab Kekerasan

     Menurut Yohana (diambil dalam Richard, 1982) mengemukakan bahwa kekerasan terhadap anak terjadi akibat kombinasi dari berbagai faktor, yaitu:

     Pewarisan kekerasan antar generasi. Banyak anak belajar perilaku kekerasan dari orang tuanya dan ketika tumbuh menjadi dewasa mereka melakukan tindakan kekerasan kepada anaknya. Dengan demikian, perilaku kekerasan diwarisi dari generasi ke generasi. Studi-studi menunjukan bahwa kurang lebih 30% anak-anak yang diperlakukan kekerasan menjadi orang tua yang bertindak keras kepada anak-anaknya.

     Stress sosial. Stress yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan risiko kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Kondisi-kondisi sosial ini mencakup pengangguran, penyakit, kondisi perumahan yang buruk dan sebagainya. Sebagian besar dilaporan tentang tindakan kekerasan terhadap anak berasal dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan.

     Isolasi sosial dan keterlibatan masyarakat bawah.  Orang tua dan pengganti orang tua yang melakukan tindakan kekerasan terhadap anak cenderung terisolasi secara sosial. Sedikit sekali orang tua yang bertindak keras ikut serta dalam suatu organisasi masyarakat dan kebanyakan mempunyai hubungan yanng sedikit dengan teman atau kerabat.

     Struktur keluarga. Tipe-tipe keluarga tertentu memiliki resiko yang meningkat untuk melakukan tindakan kekerasan dan pengabaian kepada anak. Misalnya, orang tua tunggal lebih memungkinkan melakukan tindakan kekerasan terhadap anak dibandingkan dengan orangtua utuh. Selain itu, keluarga dimana baik suami atau istri mendominasi di dalam membuat keputusan penting.

 

 

 

 

Klasifikasi Kekerasan Psikologis Menurut Sinclair (1998)

     Ancaman dan teror. Mengancam untuk membunuh atau melukai anak, mengatakan masa lalu anak yang buruk akan mengancam untuk merusak barang-barang yang disenangi anak dan sebagainya.

     Verbal. Mengatakan kata-kata kasar atau kata-kata yang tidak anak sukai, membentak dan mencaci maki. Seperti bodoh, nakal, anak tak berguna dan sebagainya.

     Pemaksaan. Memaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan anak, melakukan tindakan yang tidak pantas, mencuci piring dengan lidah dan sebagainya.

     Emosi. Menyangkal emosi anak, tidak mau memberi perhatian, menciptakan rasa takut dan khawatir.

     Kontrol. Membatasi kegiatan anak, menghilangkan kesenangan anak, merampas kebutuhan dasar anak seperti tidur, makan, bermain dan sebagainya.

     Penyalahgunaan dan pengabaian. Menyalahgunakan kepercayaan, menyembunyikan informasi, merasa selalu benar, tidak mendengarkan, tidak menghormati, tidak menanggapi dan sebagainya.

 

Dampak Kekerasan

     Menurut Endaryono (2008) berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak antara lain:

     Dampak fisik. Anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Lawson (diambil dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan menyal ada hubungannya denga perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil.

     Dampak psikis. Unicef (2008) mengemukakan anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk. Kekerasan psikologis sukar diidentifikasi larena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik.



Simpulan

     Kasus kekerasan pada anak di Indonesia sangatlah banyak. Kekerasan ini disebabkan karena pengertian cara mendidik anak yang salah dan  pengaruh lingkungan yang berada disekitarnya. Dan dampak dari kekerasan tersebut dapat membuat anak mengalami dampak psikis atau mental dan fisik.

 

                                                   DAFTAR PUSTAKA
 

Endaryono. (n.d). Dampak kekerasan pada anak. Diunduh dari http://perludiketahui.wordpress.com/dampak-kekerasan-terhadap-anak/

Harisa, L.T. (2012, 22 Februari). Teori tipologi bentuk kekerasan psikologis terhadap anak. Diunduh dari http://psychologicalspot.wordpress.com/2012//02/22/teori-tipologi-bentuk-kekerasan-psikologis-terhadap-anak-child-psychological-violence/

Ritonga. (2011). Landasan teori kekerasan pada anak. Diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream//123456789/22787/4/Chapter%2011.pdf.

Setyawan, D. (2014, Juni). Perlindungan hukum terhadap anak korban kejahatan perkosaan dalam pemberitaan media massa. Diunduh dari http://www.kpai.go.id

Y Yohana. (2013, September 08). Penyebab kekerasan terhadap anak [Web log post]. Retrieved from yosephineyohana.blogspot.com/2013/09/penyebab-kekerasan-terhadap-anak-pi-gw.html

 

Rabu, 05 November 2014

MAKALAH DENGAN TOPIK PORNOGRAFI


Pengaruh Kebiasaan Menonton Situs Pornografi

Terhadap Perilaku

 

 

Pengertian Pornografi

     Menurut Ernst dan Seagle, pornografi didefinisikan pornography is any matter odd thing exhibiting or visually representing person or animal performing the sexual act, whatever normal or abnormal" (Anonim, 2014). Selain itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pornografi didefinisikan sebagai penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2014).

 

     Maka dapat disimpulkan bahwa pornografi adalah hal-hal yang dapat dilihat oleh manusia ataupun hewan yang tujuannya untuk merangsang atau membangkitkan nafsu birahinya.

 

Masalah Pornografi

     Masalah pornografi sudah sering terjadi di Indonesia, pelaku dan korbannya juga berasal dari berbagai kalangan mulai dari orang tua, remaja bahkan anak-anak. Salah satu penyebab yang mempunyai pengaruh besar dalam masalah pornografi ini adalah media sosial. Karena media sosial sudah marak berkembang dan mudah untuk dipelajari dan diakses oleh siapapun.

 

     Selain media sosial, tayangan tv pun juga berpengaruh kepada cara berfikir anak. Tidak jarang tayangan tv menampilkan atau menonjolkan unsur seksual dalam film tersebut yang membuat anak akan penasaran dan mengikuti apa yang telah dilihatnya.

 

    Contohnya saja salah satu sekolah internasional ternama di Jakarta didapati tindakan pelecehan seksual pada anak taman kanak-kanak oleh office boy dan bahkan juga oleh gurunya. Yang mungkin disebabkan karena sudah kecanduan dengan pornografi sehingga mereka rela melakukan apa saja untuk memuaskan nafsunya.

 

Penyebab Pornografi

     Faktor Internal. Pertama, rasa ingin tahu yang tinggi akan membuat anak-anak akan mencari tahu dengan berbagai cara. Misalnya mencari tahu melalui media sosial yaitu internet yang dapat diakses secara mudah dan bebas. Kedua, hormon yang sedang meningkat pada anak yang sedang mengalami pubertas.

 

     Faktor Eksternal. Pertama, tidak ada penyuluhan atau pendidikan tentang seksual sejak dini. Jadi anak-anak tidak tahu apa yang boleh atau tidak boleh untuk dilakukan dan bagaimana menjaga alat reproduksi mereka. Kedua, terpengaruh oleh teman. Ketiga, dapat mengakses internet dengan mudah dan bebas.

 

Dampak Pornografi

     Intensitas menonton dan membaca pornografi. Menurut Sarwono (dikutip dalam Haryani, Mudjiran dan Syukur, 2008) menyatakan bahwa anak yang beranjak remaja cenderung melakukan aktifitas-aktifitas seksual yang prasenggama seperti melihat buku atau film cabul, berciuman, dan sebagainya.

    Perilaku seksual menyimpang terhadap diri sendiri.  Menurut Donald et al. (dikutip dalam Haryani, Mudjiran dan Syukur, 2004) menyatakan pornografi dapat mengakibatkan perilaku negatif seperti (a) mendorong remaja untuk meniru melakukan tindakan seksual, (b) membentuk perilaku negatif, (c) menyebabkan sulit konsentrasi belajar,  dan (d) tidak percaya diri.

 

Upaya Pencegahan

     Adanya penyuluhan. Penyuluhan harus diberikan sejak dini ehingga anak mengetahui dan mengerti bagaimana menjaga dirinya sendiri.

     Adanya pengawasan. Pada anak dalam menggunakan internet dan pada saat menonton tv memberitahu apa saja yang boleh dilihat dan tidak boleh dilihat.

     Situs pornografi. Pemerintah menghapus situs-situs pornografi yang sering muncul di internet.

     Tayangan televisi. Tayangan yang bersifat seksual atau yang menonjolkan unsur seksual untuk tidak disiarkan.

 

Kesimpulan

     Jadi, pornografi adalah hal yang dapat mengurangi nilain-nilai kebudayaan kita. Jika dari kecil anak sudah melihat tentang pornografi maka perilakunya akan menyimpang, seperti malas belajar. Untuk mencegah masalah pornografi tersebut, orang tua adalah orang pertama yang harus memberi tahu tentang buruknya jika anak melihat hal seperti itu. Selain itu sekolah juga berperan untuk mengawasi anak di lingkungan sekolah dan mengadakan penyuluhan tentang seksual.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. (2014, Maret). Pengertian pornografi menurut para ahli dan undang-undang. Diunduh dari fhey-laws.blogspot.com/2014/03pengertian-pornografi-menurut-para-ahli.html

 

(2014, November). Pengertian pornografi. Diunduh dari http://kbbi.web.id.pornografi

 

Haryani, M., Mudjiran, Syukur, Y. (2012). Dampak pornografi terhadap perilaku siswa dan upaya guru pembimbing untuk mengatasinya. Jurnal ilmiah konseling, 1(1), 1-8.

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 07 Oktober 2014

Pertemuan 12 (Eksistensialisme Menurut Kirkegaard)

  • Apa itu eksistensialisme
    Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya.
    Jiwa eksistenialisme ialah pandangan manusia sebagai eksistensi.
  • Ciri-ciri eksistensialisme
    Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
    Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri sendiri aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
    Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.
  • Pokok-pokok ajaran Kierkegaard
    Kritis terhadap Hegel: Memandang Hegel sebagai pemikir besar, tapi satu hal yang dilupakan hegel, meurut Kierkegaard adalah eksistensi manusia individual dan konkret.
    Ada tiga sikap terhadap hidup yaitu:
    1. Sikap estetis
    2. Sikap etis
    3. Sikap religius

Pertemuan 11 (Manusia dan Etos Kerja)

Manusia dan Etos Kerja

Hakikat Kerja
  • Definisi
    Kerja adalah wadah bagi pembentukan diri manusia dalam membangun dunianya. Melalui tiga faktor berikut:
    1. Keterlibatan dimensi subjek secara intensif. Yang dimaksud dimensi subjek adalah pikiran, kehendak dan kemauan serta kebebasan.
    2. Hasil yang bermanfaat. Kerja selalu membawa hasil.
    3. Mengeluarkan energi. Kerja itu memerlukan tenaga.
    Dari tiga faktor diatas, kerja atau pekerjaan merupakan segala kegiatan yang direncanakan, yang melibatjan pikiran dan kemauan yang sungguh-sungguh serta memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai.
  • Kerja Manusia vs Kerja Hewan
    Hewan hanya bisa mengerahkan energi fisik. Meskipun hewan mungkin memiliki energi psikis, boleh dikatakan tingkatannya sangat primitif. Manusia memilikinya sebagai bagian dirinya dan karena itu ia mampu mengerahkan energi psikis dan mampu mengerahkan energi spiritual.
    Hasil kerja hewan pada dasarnya hanya sebatas untuk keperluan self survival dan spesiesnya berupa gerak, pemenuhan makan dan minum, keturunan dan membuat tempat berteduh. Dengan demikian, hasil kerja binatang hanya untuk mempertahankan kebutuhan biologisnya. Akan tetapi hasil kerja manusia selalu memenuhi kebutuhan biologisnya.
    Pada hewan dorongan kerja bersumber dari dan berupa naluri. Dorongan ini terdapat pada hewan secara ilimiah.
    Manusia memberikan makna terhada kerja dan kinerjanya, sedangkan binatang tidak. Manusia memiliki kualitas akal budi yang tinggi. Pemaknaan kerja dalam arti seluas-luasnya merupakan elemen dasar bagi manusia untuk membangun etos kerja yang bermutu tingi dalam menekuni pekerjaannya dan ini tidak dimiliki oleh binatang.
  • Dua Elemen Kerja
    Ada dua elemen penting suatu kegiatan disebutkan sebagai kerja atau pekerjaan. Kedua elemen itu adalah elemen subjek dan elemen objek. Elemen subjek adalah potensi atau kekuatan yang melekat di dalam diri manusia. Elemen ini meliputi pikiran, keinginan, hati, kebebasan, kehendak dan kemampuan.
  • Etos Kerja
    Menurut Usman Pelly, Etos kerja adalah sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya terhadap kerja.

Kamis, 02 Oktober 2014

Pertemuan 10 (Manusia dan Afektivitasnya)

  • Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia

    - Yang membedakan manusia dengan tumbuhan adalah afektivitasnya. Karena manusia berpartisipasi dengan orang lain dan afektivitaslah yang mendorong orang untuk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.
    - Sikap mana yang diambil afektivitas berhadapan dengan objek? Terhadap objek yang dianggap berguna subjek mencintainya. Ini disebut cinta bermanfaat.
    - Bagaimana sikap subjek dapat ditentukan secara afektif oleh objeknya? Dibedakan perasaan dan emosinya, kehidupan afektif memperlihatkan macam-macam cara yang berbeda menurut bagaimana subjek menguasai objek. Keadaan afektif ini berbeda-beda disebut hasrat-hasrat jiwa. (Thomas Aquinas)
  • Apa yang bukan perbuatan afektif?

    - Hidup afektif adalah seluruh perbuatan afektif yang dilakukan subjek sehingga subjek ditarik oleh objek atau sebaliknya.
    - Perbuatan afektif sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena dianggap perbuatan vital, tapi perbuatan aektif beda dengan perbuatan mengenal karena perbuatan afektif itu pasif, sedangkan perbuatan mengenal subjek membuka diri pada objek.
  • Kondisi Afektivitas Manusia

    - Agar ada afektivitas, perlu ada ikatan kesamaan antara subjek dan objek perbuatan afektifnya.
    - Apakah kesenangan harus dicurigai? Kesenangan adalah suatu perasaan yang dialami subjek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.
  • Catatan tentang cinta akan diri, sesama dan Tuhan

    - Cinta terhadap diri sendiri adalah egoisme mkan tidak baik padahal cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yng sanggup mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh.

Pertemuan 9 (Badan dan Jiwa)

  • Pengantar
     
    - Badan dan jiwa adalah satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.
    - Bagaimana mengerti badan dan jiwa? Bagaimana peranan masing-masing dalam membentuk eksistensi manusia?
    - Pembahasan kita:
    1. Dua aliran yang melihat badan dan jiwa secara bertolak belakang (monoisme dan dualisme).
    2. Tanggapan terhadap kedua aliran tersebut.
    3. Pengertian dan hakekat badan dan jiwa.
  • Monoisme

    - Aliran yang menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yan terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia.
    - 3 Bentuk aliran ini:
    1. Materialisme adalah menempatkan materi sebagai dasar bagi segala hal yang ada.
    2. Identitas adalah menekankan hal berbeda dari materialisme tapi mengakui aktivitas mental manusia.
    3. Idealisme adalah ada hal yang tidak dapat diterangkan semata berdasarkan materi seperti pengalaman, nilai dan makna.
  • Dualisme

    - Aliran yang mengatakan badan dan jiwa adalah dua elemen yang berbeda dan terpisah. Perbedaannya ada dalam pengertian dan objek.
    - 4 cabang:
    1. Intraksionisme adalah fokus pada hubungan timbal baik antara badan dan jiwa.
    2. Okkasionalisme adalah memasukan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa.
    3. Paralelisme adalh sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pada jiwa manusia.
    4. Epifenomenalisme adalah melihat hubungan jiwan dan badan dari fungsi saraf.
  • Tanggapan singkat

    1. Pandangan monoisme bertentangan dengan hakekat manusia sesungguhnya.
    2. Pandangan dualisme khususnya paralelisme mengatakan badan dan jiwa dua hal yang terpisah, tidak terkait, sulit diterima karena manusia adalah makhluk rohani da jasmani sekaligus.
  • Pengertian badan dan jiwa

    - Badan adalah elemen mendasar dalam membentuk pribadi manusia. atau sebagai kumpulan berbagai entitas material yang membentuk makhluk.
    - Jiwa adalah makhluk halus, tidak bisa ditangkao indera.

Pertemuan 8 ( Filsafat Manusia )

  • Apa itu filsafat? Perenungan kefilsafatan?

    Filsafat sebagai perenungan dicirikan oleh:
    1. Mengkaji segala hal secara kritis.
    2. Menggunakan metode dialektis.
    3. Berusaha mencapai realitas terdalam (arkhe).
    4. Bertujuan menangkap tujuan ideal realitas.
    5. Mengetahui bagaimana harus hidup sebagai manusia
    Jadi...
    1. Filsafat sebagai hasil perenungan.
    2. Filsafat sebagai kritis.
    3. Filsafat sebagai ilmu yang berusaha mencari kebenaran secara metodik, sistematis, rasional, runtut, radikal dan bertanggungjawab.
  • Apa itu filsafat manusia?

    1. Bagian filsafat yang mengupas apa arti manusia atau menyoroti hakikat atau esensi manusia.
    2. Memikirkan tentang asal usul kehidupan manusia, hakikat manusia dan realitas eksistensi manusia.
    3. Hasrat untuk tahu siapa dan apakah manusia.
    Maka, filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.
  • Apa perlunya mempelajari filsafat?

    1. Manusia adalah makhluk yang mampu dan wajib menyelidiki arti yang dalam dari "yang ada".
    2. Manusia bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.
    Boleh saja tidak harus tahu segala hal tapi sekurang-kurangnya harus mengenal dan mengerti diri sendiri secra mendalam agar dapat mengatur diri dalam hidup ini.
  • Metode Filsafat Manusia

    Sebagai bagian dar filsafat, cara kerja flsafat manusia juga sama dengan filsafat pada umumnya. yaitu refleksi, analisa transendental dan sintesa juga ekstensif, intensif dan kritis.
  • Objek Filsafat Manusia

    Objek material: Manusia; Objek formal: Esensi manusia, strukturnya yang fundamental.
    Struktur fundamental bukan fisik melainkan struktur metafisik yang intisari, struktur dasar, bentuk terpentin manusia, dinamisme primordial manusia yang diketahui melalui daya pikir bukan pengindraan.
  • Pertanyaan apa yang hendak dijawab?

    1. Apakah manusia itu?
    2. Siapakah manusia itu?
    3. Apakah makna eksistensi manusia?
    4. Apakah arti manusia dan bagaimana masa depan manusia?
  • Bagaimana datangnya pertanyaan mengenai manusia?

    1. Kekaguman
    2. Ketakjuban
    3. Frustasi
    4. Delusi
    5. Pengalaman Negatif

Jumat, 26 September 2014

Pertemuan 7 (Etika dan Moral)

Pengertian Etika
  • Etika sebagai cabang filsafat juga disebut filsafat moral.
  • Secara etimologis, etika berasal dari kata Yunani yaitu Ethos yang artinya watak sedangkan moral berasal dari kata Latin yaitu Mos yang artinya tunggal dan Moris yang artinya jamak. 
  • Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kesusilaan.
  • Obyek material dari etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia yang secara bebas dan sadar.
  • Objek formal dari etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkal laku tersebut.
Etika menurut Bertens
  • Nilai dan norma moral menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Disebut juga sebagai "sistem nilai" dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat. Misalnya: Etika orang Jawa.
  • Kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud disini adalah kode etik. Misal: Kode Etik Advokat Indonesia.
  • Ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Artinya sama dengan filsafat moral.
Etika dibedakan menjadi 2
  • Etika Perangai
    Adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah tertentu dan pada waktu tertentu.
    Contoh: Berbusana  adat, pergaulan muda mudi, perkawinan semenda, upacara adat.
  • Etika Moral
    Berkenaan dengan kebiasaan berprilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila dilanggar timbul kejahatan yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral.
    Contoh: Bekata dan berbuat jujur, menghargai hak orang lain, menghormati orang tua dan membela kebenaran dan keadilan.
Arti Etika
  • Etika sebagai ilmu
    Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
  • Etika sebagai kode etik
    Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
  • Etika sebagai sistem nilai
    Nilai mengenai benar salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.
Obyek Material dan Obyek Formal Etika
  • Objek material: Suatu hal yang dijadikan sasaran pemikirian, suatu hal yang diselidiki atau suatu hal yang dipelajari. Objek material bisa bersifat konkret atau abstrak.
  • Objek formal: Cara memandang atau meninjau yang dilakukan seorang peneliti atau ilmuwan terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.
  • Objek material etika: Tingkah laku atau perbuatan manusia yang dilakukan secara sadar dan bebas.
  • Objek formal Etika: Kebaikan dan keburukan, bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.
Etika sebagai Cabang Filsafat
  • Etika merupakan cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan metode tugas manusia dalam upaya menggali nilai-nilai moral atau menerjemahkan berbagai nilai itu ke dalam norma lalu menerapkkannya pada situasi kehidupan konkret.
  • Sebagai ilmu, etika mencari kebenaran; sebagai filsafat, etika mencari kebenaran yang sedalam-dalamnya.
Berdasarkan Kajian Ilmu
  • Etika Nomatif
    Mempelajari secara kritis dan metodis norma yang ada untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
  • Etika Fenomenologis
    Mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.

Tujuan Belajar Etika
  • Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu.
  • Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
Sumber dari PPT Carolus Suharyanto, Lic. Theol


































Senin, 22 September 2014

Pertemuan 6 (Silogisme dan Fallacia)


©       SILOGISME
- Suatu simpulan dimana dari dua putusan atau premis disimpulkan satu putusan yang baru.
- Prinsip: Bila premis benar maka simpulan benar.
- Dua macam silogisme: kategoris dan hipotesis.


©       Silogisme Kategoris
- Premis dan simpulannya adalah putusan kategoris (Penyataan tanpa syarat)
- Bila penalaran baik, silogisme memperlihatkan alasan dan dasarnya.
- Tentukan simpulan dulu, ciri-cirinya lewat kata: karena itu, maka dari situ, dll.


©       Silogisme Kategoris Tunggal
- Mempunyai dua premis. Terdiri dari 3 term yaitu S, P dan M.
- Bentuk-bentuk silogisme kategoris tunggal:
(1) M adalah S dalam premis mayor dan P adalah premis minor. Aturan: Premis minor harus sebagai penegasan sedangkan premis mayor  bersifat umum.
Contoh :
Premis Mayor: Setiap manusia dapat mati.
Premis Minor: Aristoteles dapat mati.
Simpulan: Jadi, Aristoteles dapat mati.
(2) M jadi P dalam premis mayor dan minor. Aturan: Salah satu premis harus negatif dan premis mayor bersifat negatif.
Contoh:
Premis Mayor: Lingkaran adalah bentuk bundar.
Premis MInor: Segitiga bukan bentuk bundar.
Simpulan: Jadi, Segitiga bukan lingkaran.
(3) M menjadi S dalam premis mayor dan minor. Aturan: Premis minor harus berupa penegasan sedangkan putusan bersifat partikular.
Contoh:
Premis Mayor: Mahasiswa itu orang dengan tugas belajar.
Premis MInor: Ada mahasiswa yang orang bodoh.
Simpulan: Jadi, Sebagian orang bodoh itu orang dengan tugas belajar.
(4) M adalah P dalam premis mayor dan S dalam premis minor. Aturan: Premis minor harus berupa penegasan sedangkan kesimpulan bersifat partikular.
Contoh:
Premis Mayor: Influenza itu penyakit.
Premis Minor: Semua penyakit mengganggu kesehatan.
Simpulan: Jadi, Sebagian yang mengganggu kesehatan itu influenza.


©       Silogisme Kategoris Majemuk
- Enthymema: Silogisme yang dalam penalaran tidak mengemukakan semua premis secara eksplisit. Salah satu simpulannya disebut juga silogisme yang disingkat.
- Pilosologisme: Deretan silogisme dimana simpulan silogisme yang satu menjadi premis untuk silogisme lainnya.
- Sorites: Silogisme yang premisnya lebih dari dua. Putusan-putusan itu dihubungkan satu sama lain demikian sehingga predikat dari putusan satu jadi subjek putusan berikutnya.
 
Kesesatan Pemikiran (Fallacia)
- Kesalahan pemikiran dalam logika bukan kesalahan fakta tapi kesalahan atas kesimpulan karena penalaran yang tidak sehat.
- Kesalahan fakta: Presiden AS Barack Obama lahir di Indonesia.
- Kesalahan penalaran:
                -Klasifikasi: 1. Kesesatan Formal
                                  2. Kesesatan Informal
- Kesesatan Formal: Pelanggaran terhadap kaidah logika.
- Kesesatan Informal: Menyangkut kesesatan dalam bahasa.
- Penempatan kata depan yang keliru: Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan.
- Mengacau posisi subjek: Karena tidak mengerjakan PR, guru menghukum anak itu.
- Ungkapan yang keliru: Pencuri kawakan itu berhasil diringkus polisi minggu yang lalu.
- Amfiboli: Sesat karena struktur kalimat bercabang.
- Kesesatan aksen: Sesat karena penekanan pada pembicaraan.
- Kesesatan bentuk pembicaraan: Sesat karena menyimpulkan kesamaan konstruksi.
- Kesesatan aksiden: Dikacaukan dengan hal yang hakiki.

Sumber dari PPT Mikha Agus Widianto, M.Pd dan Bonar Hutapea M.Si. Psi

Pertemuan 5 (Critical Thinking dan Induksi-Deduksi)


©       CRITICAL THINKING
- Merasionalisasikan kehidupan manusia secara hati-hati mengamati proses berpikir sebagai dasar untuk memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu. (Chaffee, 1990)
- Pengamatan atas suatu asumsi tentang bukti terbaru dan mengevaluasikan argumen dalam rangka menegakan kesimpulan atas suatu perspektif baru. (Strader, 1992)

Karakteristik:
1. Rasional, Reasonable dan Reflektif
- Berdasarkan alasan dan bukti bukan atas dasar keinginan pribadi.
- Pemikir kritis tidak melompat pada kesimpulan. Butuh waktu untuk koleksi data, timbang fakta dan pikirkan permasalahan.
2. Melibatkan Skepticism yang Sehat dan Konstruktif
- Tidak menolak ide-ide kecuali karena mengerti hal tersebut.
- Menaati peraturan setelah berpikir panjang dengan mencari pemahaman untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.
3. Otonomi
- Tidak mudah dimanipulasi.
- Berpikir dengan pikiran sendiri dibandingkan diarahkan dengan anggota grupnya.
4. Kreatif
- Menciptakan ide orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran dan konsep.
5. Adil
- Tidak berpihak.
6. Dapat dipercaya dan dilakukan
- Memutuskan tindakan yang akan dilakukan.
- Membuat observasi yang dapat dipercaya.
- Menegakkan kesimpulan secara tepat.
- Mengatasi masalah dengan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan.

Pemikir Kritis di Psikologi akan menampilkan ketrampilan kognitif dalam:
- Analisa
- Aplikasi Standar
- Diskriminasi
- Pencarian Informasi
- Pembuatan Alasan Logis
- Prediksi
- Transformasi Pengetahuan

5 Model Berfikir Kritis
- T: Total Recall
- H: Habits
- I: Inquiry
- N: New Ideas and Creativity
- K: Knowing How You Think

- Total Recall: Mengingat suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan.
- Habits: Sesuatu yang dilakukan tanpa berpikir.
- Inquiry: Memeriksa isu secara mendalam dengan menanyakan hal-hal yang terlibat.
- New Idea and Creativity:  Seseorang berpikir melebihi buku sumber.
- Knowing How You Think: Berpikir bagaimana seseorang berpikir.


©       Apa penalaran induktif?
- Cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal untuk menarik kesimpulan umum tertentu.
- Kesimpulan adalah generalisasi fakta yang memperlihatkan kesamaan.
- Kesimpulan harus dianggap sebagai bersifat sementara dan selalu tidak lengkap.
- Persamaan penalaran induktif dan deduktif yaitu argumentasi keduanya terdiri dari premis yang mendukung kesimpulan.
- Perbedaan penalaran induktif dan deduktif yaitu penalaran yang tepat akan punya premis benar tapi kesimpulan salah.

Generalisasi Induktif:
- Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dengan sifat tertentu untuk menarik kesimpulan untuk semua.
- Prinsip: Apa yang terjadi berkali-kali dalam kondisi tertentu diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yang sama terpenuhi.
- 3 syarat: 1. Tidak terbatas secara numerik, 2. Tidak terbatas secara spasio temporal, 3. Dapat dijadikan dasar pengandaian.

Analogi Induktif
- Bicara tentang dua hal yang berbeda dan dibandingkan.


©       Deduktif
- Suatu proses tertentu dalam proses akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang lebih khusus dari pengetahuan yang umum.

Sumber: PPT Pengantar dan Sejarah Filsafat Dr. Raja Oloan Tumanggor dan Mikha Agus Widianto, M.Pd

Sabtu, 20 September 2014

Pertemuan 4 (Subyektivisme-Obyektivisme dan Substansi Filsafat Ilmu)


SUBYEKTIVISME-OBYEKTIVISME
  • Subyektivisme

- Pengetahuan dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu.
- Dari pangkal pandangan individu, pengetahuan dipahami sebagai seperangkat keyakinan khusus yang dianut oleh para individu.
- Pendukung pandangan ini, yaitu:
1. Aristoteles, Plato, Rene Descartes
2. Kaum Solipsisme (Solo Ipse)
3. Kaum Realisme Epistemologis
4. Kaum Idealisme Epistemologis
- Ciri-ciri pendekatan subyektivisme:
  1. Menggegas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa) misalnya sejarah, kepercayaan-kepercayaan yang lain dan seterusnya.
  2. Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri.
  3. Prinsip subyektif tentang alasan cukup karena pengalaman bersifat personal,  benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.

- Descartes:
  - Cogito ergo sum cogitans: Saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.
  - Ketika Descartes berbicara mengenai "berpikir", ia tidak bermaksud secara ekslusif pada penalaran saja, tetapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak masuk dalam kegiatan berfikir.
- Realisme Epistemologis: Berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan "apa yang lain" dari diri saya.
- Idealisme Epistemologis: Berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide yang merupakan suatu  peristiwa subyektif murni.
- Banyak filsuf sesudah Descartes mengandaikan bahwa satu-satunya hal yang dapat diketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita.
-Semua pengetahuan tentang sesuatu "yang bukan aku" atau "yang diluar diri sendiri" diragukan kepastian kebenarannya.
- Pengetahuan  tentang sesuatu "yang bukan aku" merupakan pengetahuan tidak langsung.
- Descartes melolak skeptisme yang membawanya ke arah subyektivisme.
- Sikap dasar skeptisme adalah kita tidak pernah tau tentang apa pun. Mustahil manusia mencapai pengetahuan tentang sesuatu atau paling kurang manusia tidak pernah merasa yakin apakah dirinya dapat mencapai pengetahuan tertentu.

Obyektivisme

-
Kenyataan bukti bagi keyakinan nalar akan adanya dunia luar atau "yang bukan aku" tidak kurang meyakinkan dibandingkan bukti yang tersedia bgi kenyataan adanya subyek atau aku.
- Descartes ke dalam posisi ekstrim yang disebut solipsisme berarti Ia sendiri pada dirinya.
- Keberadaan sesuatu di luar diri atau "yang bukan aku" dalam pengalaman sehari-hari misalnya menjadi jelas dari gejala bahasa.
- Kenyataan adalanya bahasa selalu mengandaikan bahwa adanya pribadi atau subyek  lain selain dirinya  sendiri.
- Orang tidak akan mempunyai kesadaran eksplisit tentang dirinya sebagai individu selain melalui interaksi dengan individu lain atau "yang bukan aku"
- Kedasaran akan diri sendiri merupakan hasol dari suatu proses bertahap melalui pengalaman pergaulatan dengan dunia luar.
- Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks. Mempunyai sifat dan ciri yang melampaui keyakinan dan kesadaran individu.
- 3 Pandangan dasar objektivisme:
            1. Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif.
            2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual.
            3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
  Pandangan ini sangat dekat dengan positivisme dan empirisme.

 

SUBSTANSI FILSAFAT ILMU
  • Konfirmasi
    - Penegasan atau memperkuat.
    - Berhubungan dengan filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang di dapat dari kenyataan atau fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna tentang sesuatu.
    - Ada 2 aspek konfirmasi yaitu kuantitatif dan kualitatif.
    - Kuantitatif memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif. Misalnya membuat penelitian dengan mengumpulkan sampel sebanyak mungkin yang akhirnya membuat suatu kesimpulan yang bersifat umum.
    - Kualitatif menunjukan kebenaran. Misalnya dalam penelitian menjalankan model wawancara mendalam.
    - 3 jenis konfirmasi yaitu:
1. Decision Theory: Kepastian berdasarkan keputusan.
2. Estimation Theory: Menetapkan kepastian dengan memberi peluang.
3. Realiability Theory: Menetapkan kepastian dengan mencermati stabiitas fakta yang berubah-ubah terhadap hipotesis.
  • Inferensi
    - Artinya penyimpulan.
    - Sebagai proses membuat kesimpulan.
    - Dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari suatu atau lebih keputusan.
    - Mempunyai dua cara yaitu cara deduktif dan induktif.
    - Deduktif terbagi ke dalam 2 jenis yaitu inferensi langsung dan inferensi tidak langsung.

  • Konstruksi Teori
    - Kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alam atau sosial.
    - Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi  menurut metode alamiah.
    - Dua kutub arti teori yaitu :
    1. Kutub 1: Teori sebagai hukum ekperimental2. Kutub 2: Teori sebagai hukum yang berkualitas norma
 Sumber: PPT Pengantar dan Sejarah Filsafat Carolus Suharyanto. Lic.Theol. dan Mikha Agus Widianto, M.Pd

Pertemuan 3 (Epistemologi dan Filsafat Kebenaran)

EPISTEMOLOGI

  • Pengantar
    - Epistemologi dari bahasa Yunani. Episteme adalah pengetahuan dan Logos adalah ilmu. Jadi epistemologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat. Misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya serta hubungan dengan kebenaran dan keyakinan.
    - Epistemologi adalah teori pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian, dasar serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.
    -Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode yaitu metode induktif, deduktif, positivisme, kontemplatis dan dialektis.
  • Metode untuk Memperoleh Pengetahuan
    a. Empirisme
    Adalah suatu metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman.
    b. Rasionalisme
    Yang berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal.
    c. Fenomenalisme
    Bapak fenomalisme adalah Immanuel Kant. Sesuatu terdapat dalam diri seseorang merangsang alat inderawi dan diterima oleh akal kita dalam bentuk pengalaman secara sistematis dengan jalan penalaran.
  • Sifat Epistemologi
    - Secara kritis: Mempertanyakan atau menguji cara kerja, pendekatan dan  kesimpulan yang ditarik dalam kegiatan kognitif manusia.
    - Secara Normatif: Menentukan norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan.
    - Secara Evaluatif: Menilai apakah suaru keyakinan, pendapat suatu teori pengetahuan dapat dipertanggung jawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat.
  • Dasar dan Sumber Pengetahuan
    - Pengalaman manusia
    - Ingatan
    - Penegasan tentang apa yang diobservasi
    - Minat dan rasa ingin tahu
    - Pikiran dan penalaran
    - Logika
    - Bahasa
    - Kebutuhan hidup manusia
  • Struktur Hidup Manusia
    - Adanya 2 kutub yaitu:
      1. Kesadaran/Subjek (S): Sebagai yang mengetahui
      2. Objek (O): Sebagai yang diketahui
    - Hubungan antara S dan O menghasilkan pengetahuan
  • Teori Kebenaran dalam Ilmu Pengetahuan
    - Teori kebenaran korespondensi
       Kebenaran akan terjadi apabila subjek yakin bahwa objek sesuai dengan kenyataan.
    - Teori kebenaran koherensi
       Kebenaran akan terjadi apabila ada kesesuaian pendapat dari beberapa subjek.
    - Teori kebenaran pragmatik
       Kebenaran akan terjadi apabia sesuatu memiliki kegunaannya.
    - Teori kebenaran konsensus
       Kebenaran akan terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai alasan tertentu.
    - Teori kebenaran semantik
       Kebenaran akan terjadi apabila orang mengetahui dengan tepat arti suatu kata.
KEBENARAN

  • Apakah kebenaran itu?
    - Untuk menilai sifat atau kualitas dari suatu proposisi atau pernyataan digunakan istilah benar-salah
    - Pengetahuan bisa dinilai benar atau salah karena pengetahuan pada dasarnya  merupakan gabungan dan perpaduan dari sistem pernyataan.
    - Konsep tidak dapat dinilai benar atau salah. Hanya dapat dinilai jelas dan terpilah.
    - Persepsi tidak dapat disebut benar atau salah, yang dapat adalah pernyataan apa yang dipersepsikan.
  • Pengertian Kebenaran
    - Kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologi.
    - Kebenaran dapat dimengerti sebagai kesusaian antara apa yang dipikirkan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
    - Suatu pengetahuan atau pernyataan disebut benara jika sesuai dengan kenyataan. Dengan demikian, kenyataan menjadi suatu ukuran penentu penilaian.
    - Kata Yunani untuk kebenaran adalah  aletheia yang berarti ketaktersembunyian adanya.
    - Kebenaran menurut konsep Plato dimengerti sebagai terletak pada objek yang diketahui atau pada apa yang dikejar untuk diketahui.
    - Menurut kaum Positivisme Logis bahwa kebenaran dibedakan menjadi 2 yaitu:
      1. Kebenaran Faktual
          Kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia.
      2. Kebenaran Nalar
          Kebenaran yang bersifat tautologis dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang dunia ini.
    - Thomas Aquinas kebenaran dibedakan menjadi 2 yaitu:
       1. Kebenaran Ontologis
           Kebenaran yang terdapat dalam kenyataan spiritual atau material yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui.
       2. Kebenaran Logis
           Kebenaran yang terdapat pada akal budi manusia dalam bentuk adanya kesesuaian dengan kenyataan.

    Sumber: PPT Pengantar dan Sejarah Filsafat Dr. Raja Oloan Tumanggor dan  Carolus Suharyanto. Lic.Theol.

Selasa, 16 September 2014

Pertemuan 2 (Metafisika dan Aksiologi)

METAFISIKA

·      Etimologis: Meta ta physika = Sesudah fisika. Istilah Andronikos dari Rhodes untuk 14 buku Aristoteles yang ditempatkan sesudah fisika (8 buku). Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat  kedua (fisika).

·         Beragam arti metafisika:
- Upaya mengkarakterisasi realitas sebagai keseluruhan.
- Usaha menyelidiki apakah hakikat yang berada dibalik realitas.
- Pembahasan filsafati yang komprehensif mengenai seluruh realitas atas
  segala sesuatu yang ada. (Umum)

·         Pembagian metafisika:
- Metafisika Umum: Ontologi
- Metafisika Khusus: Kosmologi, teologi metafisik, filsafat antropologi.

1.    Metafisika Umum (Ontologi)
Membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dengan cara memisahkan eksistensi dari penampilan eksistensi itu.
3 Teori ontologis, yaitu:
1.    Idealisme: Ada sesungguhnya berada di dunia ide, yang tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah bayangan dari yang sesungguhnya.
Tokohnya:
- Berkeley (1685-1753): Satu-satunya realitas sesungguhnya ialah akulah subjektif spiritual.
- I. Kant (1724-1804): Objek pengalaman ialah yang ada dalam ruang dan waktu, penampilan dari yang tidak punya eksistensi dan independen diluar pemikiran kita.
- Hegel (1770-1831): Segala sesuatu yang ada adalah satu bentuk dari satu pikiran.
2.    Materialisme: Menolak hal yang tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah keberadaannya semata-mata material. Realitas adalah alam kebendaan.
Tokohnya:
- Leukippos dan Demokrios (460-370SM): Realitas bukan hanya satu tapi banyak unsur yang tidak dapat dibagi (atom).
- Hobbes (1588-1679): Seluruh realitas ialah materi yang tidak bergantung pada pikiran kita.
- L.A.Feuerbach (1804-1872): Material adalah realitas sesungguhnya, manusia bagian dari alam materi itu.
3.    Dualisme: Tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tidak kelihatan secara fisis). Harus dibedakan dengan monisme dan pluralisme (teori tentang jumlah substansi).

2.    Metafisika Khusus (Teologi Metafisik)
·         Kosmologi: (Kosmos = Dunia/ketertiban, Logos = Kata/ilmu)
Percakapan tentang alam/ketertiban paling fundamental dari seluruh realitas.
Memandang alam sebagai totalitas dari fenomena. Yang disoroti: ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, keabadian dengan metode rasional.

·         Teologi Metafisik: Dikenal dengan theodicea yang membahas kepercayaan pada Allah di tengah realitas kejahatan yang merajalela di dunia.
Membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama. 
Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dengan bukti rasional sebagai berikut:

a.    Argumen ontologis: Semua manusia punya ide tentang Allah. Realitas lebih sempurna dari ide. Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih sempurna dari ide manusia tentang Tuhan.
b.    Argumen kosmologis: Setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia adalah Tuhan.
c.    Argumen moral: Manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
d.    Filsafat Stoa: Panteistis - Segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi atau kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
e.    David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
f.     Feuerbach: Religi tercipta oleh hakekat manusia sendiri, yaitu egoisme.
g.    L. Feuerbach: Religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tidak lain dari apa yang diinginkan manusia.
h.    F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk karena Allah dianggap sebagai Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
i.      Sigmund Freund: Tiga fungsi Allah yang utama yaitu:
         - Penguasa Alam.
         - Agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yang
           mengerikan.
         - Allah menjaga agar ketentuan budaya dilaksanakan.


AKSIOLOGI
·         Pengertian
- Aksiologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu Axios dan Logos.
- Axios berarti nilai dan logos berarti ilmu.
- Nilai berkaitan dengan kegunaan.
- Aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia  menggunakan ilmunya.
- Surisumantri menyatakan bahwa aksiologi merupakan teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
- Aksiologi adalah kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.
- Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah serta cara dan tujuan dari perbuat manusia.
- Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten mengenai perilaku etika.
- Pengetahuan manusia cukup luas. Pengetahuan itu diharapkan memiliki aspek tepat guna bagi pemiliknya.
- Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan.
- Bagaimana kaitan antara cara pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai.
- Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai.
- Nilai yang dimaksud dalam aksiologi adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.

·         Fakta dan Nilai
- Aksiologi membedakan "yang ada" dengan nilai, membedakan fakta dan nilai.
- Untuk menjelaskan lebih jauh apa nilai, perlu dibedakan dengan fakta. Fakta adalah sesuatu yang ada secara nyata dan berlangsung begitu saja. Sementara nilai adalah sesuatu yang berlaku, sesuatu yang memikat atau mengimbau kita.
- Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. Fakta dapat dilukiskan secara objektif. Misalnya letusan gunung merapi, letusan tersebut bisa punya nilai bagi seseorang tetapi tidak bagi yang lain.
- Fakta selalu mendahului nilai maka ada 3 ciri-ciri nilai:
                1. Nilai berkaitan dengan subjek
                2. Nilai tampil dalam konteks praktis
                3. Nilai menyangkut sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat yang dimiliki objek.
- Macam-macam nilai:
                1. Nilai Ekonomis: Berdasarkan hukum ekonomi
                2. Nilai Estetis: Saat menikmati lukisan atau lagu yang indah.

·         Nilai Moral
- Apa yang membuat suatu nilai menjadi nilai moral? Setiap moral memperoleh bobot moral bila diikutsertakan dalam tingkah laku moral. Kejujuran sebagai nilai moral yang kosong bila tidak diikutsertakan dengan nilai lain seperti nilai ekonomis.
- Nilai dibagi 4 kelompok:
                1. Nilai yang menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek yang perpadanan dengan makhluk punya indera.
                2. Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar, luhur dll.
                3. Nilai rohani seperti nilai estetis (bagus jelek) benar salah (tidak terikat pada permasalahan inderawi)
                4. Nilai religius seperti yang kudus dan tidak kudus menyangkut objek absolut.
- Ada sesuatu hirarki dari pengelompokan 4 nilai tersebut yaitu nilai vital lebih tinggi dari nilai kesenangan dan nilai rohani lebih tinggi dari nilai vital, dan seterusnya.
- Ciri-ciri nilai moral:
                1. Berkaitan dengan tanggung jawab kita sebagai manusia. Nilai moral dapat di wujudkan dalam perbuatan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab.
                2. Berkaitan dengan hati nurani
                3. Mewajibkan. Misalnya nilai moral mewajibkan secara absolut.
                4. Bersifat formal. Tidak ada nilai moral yang murni terlepas dari nilai lain.
- Nilai moral memiliki kekuatan besar yang memaksa untuk menerimanya, walaupun bertentangan dengan hasrat kecenderungan dan kepentingan pribadi kita.

·         Nilai sebagai Kualitas yang Tidak Riil?
- Nilai itu tidak ada untuk dirinya sendiri
- Nilai tampak pada kita seolah-olah hanya merupakan kualitas dari pengemban nilai: keindahan dari lukisan, kegunaan dari sebuah peralatan.
- Jadi nilai itu bukan merupakan benda atau unsur dari benda. Melainkan sifat, kualitas dari objek tertentu yang dikatakan baik.

·         Pembagian Aksiologi
- Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu:
                1. Etika (Filsafat Etika)
                2. Estetika (Filsafat Keindahan)
- Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia. Contohnya tindakan yang membedakan benar salah menurut moral, putusan moral bertindak sewenang-wenang atau bertindak sekehendak hati.
- Etika digunakan untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan atau manusia-manusia lainnya.
- Etika sebagai filsafat yang memuat pendapat, norma dan istilah moral.
- Etika sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan.
- Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika dan bagaimana kita bisa mengenal karya besar seni.
- Estetika berkenaan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dan fenomena sekelilingnya.

·         Peranan Nilai Bagi Kita
- Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
- Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya melalui tindakan.
- Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
- Memperkuat identitas kita sebagai manusia.
Sumber: PPT Pengantar dan Sejarah Filsafat Bonar Hutapea, M.Si. Psi dan Mikha Agus Widianto, M.Pd